Konfigurasi Routing OSPF Pada Cisco

Konfigurasi Routing OSPF Pada Cisco


Hello, Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba untuk menjelaskan bagaimana cara konfigurasi Routing OSPF pada Cisco. Sebelum itu apasih itu Routing? Routing sendiri merupakan proses untuk menentukan jalur terbaik (Best Path) supaya packet data dapat dikirimkan dari satu network ke network yang lain melalui perangkat Layer 3 seperti Router salah satu contohnya. Terdapat dua jenis routing yaitu static dan dynamic. Pada routing static kita perlu mendefinisikan destination network dan path yang dapat dilalui secara manual. Sedangkan pada routing dynamic path ditentukan oleh protocol routing itu sendiri, kita cukup mengadvertise masing-masing network yang ada di router. 


OSPF (Open Short Path First) sendiri merupakan salah satu protocol dari routing dynamic. Dalam menentukan path terbaik, OSPF menggunakan cost (metric) sebagai parameter utama. Cost ini dihitung berdasarkan bandwidth interface, di mana semakin besar bandwidth suatu link, maka semakin kecil nilai cost-nya (artinya jalur tersebut lebih diprioritaskan).






Baiklah setelah mengetahui tentang apa itu routing OSPF, sebelum melakukan konfigurasi ada baiknya untuk mengetahui topologi yang digunakan pada tutorial ini. Konfigurasi OSPF ini disimulasikan menggunakan aplikasi Cisco Packet Tracert versi 9.0.0.0810, dengan menggunakan tiga router. Antar router dihubungkan IP yang terlampir pada topologi. Kemudian setiap router memiliki network yang terhubung ke PC dengan subnet IP yang terlampir pada topologi. Tujuan konfigurasi routing OSPF disini adalah menghubungkan network antar PC yang berada di masing-masing router.  Berikut detail alokasi IP Address untuk setiap port pada perangkat :




Supaya lebih mudah dipahami, maka tutorial ini saya akan bagi dalam beberapa bagian :
A. Konfigurasi IP Address Pada Interface Router.
B. Konfigurasi Routing OSPF.
C. Verifikasi Konfigurasi OSPF.


A. Konfigurasi IP Address Pada Interface.
Pada point pertama ini kita akan mengkonfigurasi IP Address pada router sesuai dengan alokasi. Koneksi antar router akan dihubungkan menggunakan IP Address point to point dan setiap router akan memiliki interface loopback dengan id 1 yang akan digunakan sebagai router id pada konfigurasi routing OSPF. Untuk konfigurasi IP Address di interface router maka pertama kita perlu masuk ke dalam global configuration mode dengan command configure terminal, setelah masuk ke dalam global configuration mode kita masuk ke sub configuration interface. Adapun untuk masuk ke sub configuration interface gunakan command interface [interface_name]. Sebagai contoh kita ingin menambahkan konfigurasi IP Address GigabitEthernet 0/0, maka gunakan command interface GigabitEthernet 0/0. Lalu setalah masuk ke sub configuration interface, tambahkan ip address dengan command ip address [ip] [subnetmask]. Terakhir jangan lupa masukan command no shutdown untuk mengaktifkan interface tersebut. Sebagai catatan untuk interface loopback otomatis aktif karena merupakan interface logical. Berikut contoh konfigurasi IP Address pada interface router yang digunakan pada topologi ini :

Router>enable
Router#configure terminal
Router(config)#hostname RTR-001
RTR-001(config)#interface loopback 1
RTR-001(config-if)#ip address 172.18.0.1 255.255.255.255
RTR-001(config-if)#exit
RTR-001(config)#interface gigabitEthernet 0/0
RTR-001(config-if)#ip address 172.18.1.1 255.255.255.252
RTR-001(config-if)#no shutdown
RTR-001(config-if)#exit
RTR-001(config)#interface gigabitEthernet 1/0
RTR-001(config-if)#ip address 172.18.1.10 255.255.255.252
RTR-001(config-if)#no shutdown
RTR-001(config-if)#exit
RTR-001(config)#interface gigabitEthernet 2/0
RTR-001(config-if)#ip address 192.168.1.1 255.255.255.0
RTR-001(config-if)#no shutdown
RTR-001(config)#exit
RTR-001#write memory


Router>enable
Router#configure terminal
Router(config)#hostname RTR-002
RTR-002(config)#interface loopback 1
RTR-002(config-if)#ip address 172.18.0.2 255.255.255.255
RTR-002(config-if)#exit
RTR-002(config)#interface gigabitEthernet 0/0
RTR-002(config-if)#ip address 172.18.1.2 255.255.255.252
RTR-002(config-if)#no shutdown
RTR-002(config-if)#exi
RTR-002(config)#interface gigabitEthernet 1/0
RTR-002(config-if)#ip address 172.18.1.5 255.255.255.252
RTR-002(config-if)#no shutdown
RTR-002(config-if)#exit
RTR-002(config)#interface gigabitEthernet 2/0
RTR-002(config-if)#ip address 192.168.2.1 255.255.255.0
RTR-002(config-if)#no shutdown
RTR-002(config-if)#exit
RTR-002(config)#exit
RTR-002#write memory

Router>enable
Router#configure terminal
Router(config)#hostname RTR-003
RTR-003(config)#interface loopback 1
RTR-003(config-if)#ip address 172.18.0.3 255.255.255.255
RTR-003(config-if)#exit
RTR-003(config)#interface gigabitEthernet 0/0
RTR-003(config-if)#ip address 172.18.1.6 255.255.255.252
RTR-003(config-if)#no shutdown
RTR-003(config-if)#exit
RTR-003(config)#interface gigabitEthernet 1/0
RTR-003(config-if)#ip address 172.18.1.9 255.255.255.252
RTR-003(config-if)#no shutdown
RTR-003(config-if)#exit
RTR-003(config)#interface gigabitEthernet 2/0
RTR-003(config-if)#ip address 192.168.3.1 255.255.255.0
RTR-003(config-if)#no shutdown
RTR-003(config-if)#exit
RTR-003(config)#exit
RTR-003#write memory


Setelah konfigurasi IP Address jangan lupa untuk verifikasi konfigurasi IP dengan command show ip interface brief dan cek ping antar link point to point router. Pastikan ping berhasil.


B. Konfigurasi Routing OSPF.

Setelah konfigurasi IP Address dan link point to point antar router dapat terhubung, maka langkah selanjutnya adalah melakukan konfigurasi Routing OSPF. Dalam tutorial ini network semua router akan di advertised memalui routing OSPF satu area, yaitu area 0 (backbone). Langkah pertama untuk konfigurasi routing OSPF adalah membuat proses routing ospf dengan command routing ospf [id] di global configuration mode. Sebagai contoh pada tutorial ini menggunakan ospf dengan proses id 1, maka commandnya adalah routing ospf 1. 


Setelah membuat id proses routing ospf, maka kita akan diarahkan ke sub configuration routing ospf. Pada mode ini pertama kita konfiguasi router id. Router ID (RID) berfungsi sebagai identitas unik untuk setiap router yang menjalankan OSPF. Router ID digunakan untuk mengidentifikasi router dalam pertukaran informasi routing, Link-State Database (LSDB), dan proses pemilihan Designated Router (DR) pada jaringan multiaccess. Jika Router ID tidak konfigurasi maka router akan memilih IP Address tertinggi dari interface loopback yang ada. Tapi jika tidak ada interface loopback maka router akan memilih IP Address tertinggi dari interface fisik. Command untuk konfigurasi router id adalah router-id [ip]. Semisal pada RTR-001 kita akan set ip loopback 172.18.0.1 menjadi router id, maka commandnya router-id 172.18.0.1 .


Masih didalam sub configuration routing ospf, langkah selanjutnya adalah konfigurasi advertised network ke dalam routing OSPF. Commandnya adalah network [ip_network] [wildcard] area [id_area] . Untuk parameter network saya rasa teman-teman sudah paham, nah bagaimana dengan wildcard. Wildcard sendiri kita isikan hasil dari perhitungan 255.255.255.255 dikurangi subnetmask. Semisal subnetmask untuk network tersebut adalah 30 (255.255.255.252), maka nilai wildcardnya adalah 0.0.0.3 (hasil dari 255.255.255.255 - 255.255.255.252). Lalu ada parameter id_area, nah value yang dimasukan disini akan digunakan untuk identifikasi area routing OSPF. Berhubung pada tutorial ini semua berada pada area yang sama, maka kita masukan value 0 atau area backbone.


Berikut konfiguasi routing OSPF di masing-masing router pada topologi tutorial kali ini :


RTR-001(config)#router ospf 1
RTR-001(config-router)#router-id 172.18.0.1
RTR-001(config-router)#network 172.18.1.0 0.0.0.3 area 0
RTR-001(config-router)#network 172.18.1.8 0.0.0.3 area 0
RTR-001(config-router)#network 192.168.1.0 0.0.0.255 area 0
RTR-001(config-router)#exit
RTR-001(config)#do write

RTR-002>enable
RTR-002#conf terminal
RTR-002(config)#router ospf 1
RTR-002(config-router)#router-id 172.18.0.2
RTR-002(config-router)#network 172.18.1.0 0.0.0.3 area 0
RTR-002(config-router)#network 172.18.1.4 0.0.0.3 area 0
RTR-002(config-router)#network 192.168.1.0 0.0.0.255 area 0
RTR-002(config-router)#exit
RTR-002(config)#do write

RTR-003#conf terminal
RTR-003(config)#router ospf 1
RTR-003(config-router)#router-id 172.18.0.3
RTR-003(config-router)#network 172.18.1.4 0.0.0.3 area 0
RTR-003(config-router)#network 172.18.1.8 0.0.0.3 area 0
RTR-003(config-router)#network 192.168.3.0 0.0.0.255 area 0
RTR-003(config-router)#exit
RTR-003(config)#do write


C. Verifikasi Routing OSPF.

Tahap terakhir adalah verifikasi apakah routing OSPF berhasil terbentuk dan network yang di advertised di masing-masing router sudah tersampaikan di router lain atau belum. Selain itu kita juga perlu cek apakah setiap end devices yang berada di network yang berbeda apakah dapat berkomunikasi atau tidak.


Sebenarnya saat network di kedua interfaces yang saling menghubungkan router telah di advertised, maka akan muncul display :


%OSPF-5-ADJCHG: Process 1, Nbr 172.18.0.2 on GigabitEthernet0/0 from LOADING to FULL, Loading Done


Nah potongan display tersebut saya ambil dari RTR-001, maksud dari display tersebut adalah RTR-001 berhasil membentuk adjacency OSPF dengan RTR-002 melalui interface GigabitEthernet0/0, sehingga kedua router telah menyelesaikan proses sinkronisasi Link-State Database (LSDB). Berikut rangkuman penjelasan dari display tersebut :

  • %OSPF : Pesan berasal dari proses routing OSPF.
  • 5 : Tingkat keparahan pesan log (notification).
  • ADJCHG : Terjadi perubahan status adjacency OSPF.
  • Process 1 : Proses OSPF dengan Process ID 1.
  • Nbr 172.18.0.2 : Router ID neighbor yang terhubung, yaitu RTR-002.
  • on GigabitEthernet0/0 : Adjacency terbentuk melalui interface GigabitEthernet0/0 milik RTR-001.
  • from LOADING to FULL : Status neighbor berubah dari LOADING menjadi FULL, menandakan sinkronisasi database OSPF telah selesai.
  • Loading Done : Proses pertukaran informasi link-state telah selesai.

Selain memperhatikan pesan pada display tersebut, kita dapat menggunakan command show ip ospf neighbor. Berikut contoh outputnya :


RTR-001#show ip ospf neighbor 
Neighbor ID     Pri   State           Dead Time   Address         Interface
172.18.0.2        1   FULL/DR         00:00:36    172.18.1.2      GigabitEthernet0/0
172.18.0.3        1   FULL/DR         00:00:36    172.18.1.9      GigabitEthernet1/0
RTR-001#

RTR-002#show ip ospf neighbor 
Neighbor ID     Pri   State           Dead Time   Address         Interface
172.18.0.3        1   FULL/DR         00:00:32    172.18.1.6      GigabitEthernet1/0
172.18.0.1        1   FULL/BDR        00:00:32    172.18.1.1      GigabitEthernet0/0
RTR-002#

RTR-003#show ip ospf neighbor 
Neighbor ID     Pri   State           Dead Time   Address         Interface
172.18.0.2        1   FULL/BDR        00:00:32    172.18.1.5      GigabitEthernet0/0
172.18.0.1        1   FULL/BDR        00:00:32    172.18.1.10     GigabitEthernet1/0
RTR-003#


Nah jika state dalam keadaan FULL maka dapat dipastikan bahwa OSPF antar router sudah terbentuk. Verifikasi berikutnya adalah menggunakan show ip route, command ini digunakan untuk menampilkan informasi table routing. Jika berhasil di advertised maka akan ada network router lain pada router tersebut dengan flag O, yang artinya informasi network tersebut diterima oleh table routing dari protocol routing OSPF. Berikut contoh outputnya pada masing-masing router :








Demikian tutorial konfigurasi routing OSPF pada router Cisco menggunakan Cisco IOS. Melalui tutorial ini, kita telah mempelajari tahapan konfigurasi IP address pada setiap interface, mengaktifkan proses OSPF, menentukan network yang akan diiklankan, serta melakukan verifikasi untuk memastikan proses routing berjalan dengan baik. Semoga tutorial ini bermanfaat dan dapat menjadi referensi bagi teman-teman yang sedang mempelajari networking, khususnya routing pada perangkat Cisco. Terima kasih.


Referensi :

  • Buku CCNA Lab Guide Nixtrain.

Etherchannel LACP pada Switch Cisco

Etherchannel LACP pada Switch Cisco

 


Hello pada kesempatan kali ini saya akan mencoba untuk memberikan tutorial bagaimana konfigurasi Etherchannel pada perangkat Switch Cisco. Etherchannel sendiri merupakan sebuah teknologi untuk menggabungkan beberapa interface fisik menjadi satu interface logic. Adapun tujuan dikonfigurasikan etherchannel sendiri pada switch yaitu untuk meningkatkan kapasitas bandwidth port switch (Aggregate Link), redundansi, distribusi beban traffik (load balancing), dll. Terdapat dua tipe protokol etherchannel yaitu LACP (Link Aggregation Control Protocol) dan PAgP (Port Aggregation Protocol). Apa sih perbedaannya? Saya akan coba berikan penjelasan kedua tipe protocol etherchannel tersebut.


PAgP (Port Aggregation Protocol) merupakan etherchannel proprietary Cisco, artinya etherchannel ini hanya dapat dikonfigurasikan pada perangkat jaringan dari brand Cisco saja. Terdapat dua mode yaitu auto dan desirable. Sedangkan LACP (Link Aggregation Control Protocol) merupakan etherchannel standart IEEE 802.3ad , yang artinya etherchannel ini dapat dikonfigurasikan pada perangkat jaringan dari berbagai macam brand yang mendukung fitur etherchannel. Terdapat dua mode pada etherchannel LACP yaitu active dan passive. 

Tabel Mode Etherchannel.

Pada kedua tipe EtherChannel yaitu PAgP dan LACP, masing-masing memiliki mode konfigurasi yang menentukan apakah proses negosiasi pembentukan EtherChannel dapat terjadi atau tidak. Mode ini berfungsi untuk menentukan apakah interface akan secara aktif memulai negosiasi atau hanya menunggu permintaan dari perangkat lain. Berikut tabel yang dapat dijadikan referensi untuk mengetahui apakah EtherChannel dapat terbentuk berdasarkan kombinasi mode yang digunakan pada kedua sisi perangkat. Tabel ini dapat membantu dalam memahami kombinasi mode yang benar serta memudahkan proses troubleshooting apabila EtherChannel gagal terbentuk.


Sebelum melakukan konfigurasi etherchannel ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam konfigurasi etherchannel, yaitu :

a. Kecepatan interface (speed) harus sama.
b. Mode duplex harus sama (full / half duplex).
c. Mode interface harus sama (access atau trunk).
d. VLAN yang diizinkan harus sama (jika mode trunk).
e. Native VLAN harus sama (jika trunk).
f. Protocol EtherChannel harus sama (LACP atau PAgP).
g. Mode negotiation harus kompatibel (active-passive atau desirable-auto).
h. Interface harus memiliki tipe media yang sama (misalnya sama-sama GigabitEthernet).
j. Tidak boleh ada perbedaan konfigurasi Layer 2 lainnya.



Berikut topologi yang digunakan pada tutorial kali ini, terdapat dua switch yang terhubung menggunakan interface Gi1/0 dan Gi1/1. Kita akan melakukan konfigurasi etherchannel pada kedua interface tersebut pada masing-masing switch menggunakan etherchannel tipe LACP dan mode active. Berikut langkah-langkahnya : 

1. Pertama setelah masuk pada global configuration mode kita masuk ke subconfiguration interface mode. Disini kita tentukan tipe dari etherchannel dengan command channel-protocol [lacp / pagp] , kemudian tentukan mode dengan command channel-group 1 mode [desirable / auto / active / passive / on] . Berikut contoh konfigurasinya.

Switch1(config)#interface range gigabitEthernet 1/0-1
Switch1(config-if-range)#channel-protocol lacp
Switch1(config-if-range)#channel-group 1 mode active
Creating a port-channel interface Port-channel 1
Switch1(config-if-range)#end
Switch1#


2. Ulangi langkah pertama pada Swich2.


3. Setelah konfigurasi etherchannel pada setiap switch silahkan verifikasi konfigurasi etherchannel dengan beberapa command seperti show etherchannel summary, show etherchannel [id] port-channel, show interfaces [interfaces name] etherchannel. Berikut contoh outputnya.

show interfaces gigabitEthernet 1/0 etherchannel

show etherchannel 1 port-channel




show etherchannel summary


Demikianlah tutorial konfigurasi etherchannel LACP pada Switch Cisco. Sebelum melakukan konfigurasi etherchannel pastikan setiap interface yang akan menjadi member dari etherchannel atau port channel memiliki konfigurasi yang sama. Karena jika terdapat perbedaan konfigurasi etherchannel tidak akan terbantuk dan status interface menjadi suspended. Selain itu perhatikan juga pemilihan mode pada etherchannel. Semoga artikel ini dapat menjadi referensi dalam melakukan konfigurasi etherchannel pada switch Cisco. Terima kasih.

Konfigurasi Extended Access List Pada Cisco

Konfigurasi Extended Access List Pada Cisco

 


Hello pada kesempatan sebelumnya saya sudah membuat artikel untuk konfigurasi Access List Standart Pada Cisco, Kali ini saya akan share tutorial untuk konfigurasi Access List standart pada Cisco. Pada dasarnya Standart dan Extended Access List memiliki tujuan yang sama yaitu untuk melakukan filtering terhadap traffic pada jaringan. Namun yang membedakan antara Extended dan Standart access list adalah Extended Access List dapat melakukan filtering dengan lebih detail. Pada Extended Access List kita dapat melakukan filtering dengan parameter Source IP Address, Destination IP Address, Port dan Protocol. Selain itu Extended Access List menggunakan ID mulai dari 100 - 199. Extended Access list ditempatkan pada interface yang terdeket dengan source node.

Sebelum memulai langkah-langkah konfigurasi ada baiknya untuk memahami topologi yang digunakan pada tutorial kali ini. Terdapat dua VLAN yaitu VLAN 10 (192.168.1.1/24) untuk subnet end device dan VLAN 20 (172.16.1.1/24) untuk subnet server. Gateway untuk setiap VLAN berada di perangkat Router. Pada tutorial ini kita mengkonfigurasi Extended ACL untuk membatasi PC1 (192.168.1.100) hanya dapat melakukan ping ke Server dan PC2 (192.168.1.200) hanya dapat mengakses service web (80) pada server. Untuk pre requirement terkait topologi dan konfigurasi IP Address pada setiap perangkat dapat dibaca pada artikel Access List Standart pada Cisco.

Baiklah setelah memahami topologi dan requirement yang digunakan pada topologi kali ini, berikut langkah-langkah konfigurasi Extended Access List Pada Cisco :
1. Setelah melakukan konfigurasi IP Address dan VLAN pada perangkat Router dan Switch maka langkah pertama adalah membuat Access List Extended. Caranya yaitu masuk ke global configuration mode kemudian masukan command access-list [id] [permit/deny] [protocol / port] [source-ip] [wildcard source ip] [destination-ip] [wildcard destination ip] . Contohnya kita akan membuat ACL untuk mengijinkan traffic icmp saja dari PC1 ke Server.
Router(config)#access-list 100 permit icmp host 192.168.1.100 host 172.16.1.2

Command diatas bertujuan untuk membuat ACL Extended dengan id 100 untuk mengijinkan protocol ICMP dari source ip 192.168.1.100 ke destination ip 172.16.1.2. Karena jumlah IP yang difilter pada source dan destination hanya 1 IP maka kita cukup menggunakan command host untuk menggantikan wildcard.


2. Setelah membuat rule untuk mengijinkan traffic icmp dari source ip 192.168.1.100 ke destination IP 172.16.1.2 maka selanjutnya kita akan membuat access list extended untuk mengijinkan traffic web (80) dari source ip 192.168.1.100 ke destination ip 172.16.1.2. Berikut commandnya :

Router(config)#access-list 100 permit tcp host 192.168.1.200 host 172.16.1.2 eq www

Sekilas command mirip dengan rule sebelumnya tapi terdapat perbedaan seperti tcp menentukan bahwa ACL hanya berlaku untuk protokol TCP, sedangkan eq www membatasi hanya trafik ke port 80 (HTTP).


3. Untuk verifikasi konfigurasi Access List kita dapat menggunakan command show access-list pada priviliged exec mode. Berikut outputnya :

Router#show access-lists
Extended IP access list 100
    10 permit icmp host 192.168.1.100 host 172.16.1.2 (2 matches)
    20 permit tcp host 192.168.1.200 host 172.16.1.2 eq www (13 matches)
Router#

 

4. Langkah selanjutnya adalah verifikasi dari client apakah rule yang kita buat apa sudah berjalan atau belum.

Cek Akses Web (Kiri PC1 / Kanan PC2).


Cek Akses Ping (Kiri PC1 / Kanan PC2).


Demikianlah konfigurasi singkat dari ACL Extended pada Cisco. Semoga dapat menjadi referensi dalam konfigurasi Extended ACL di Cisco. Terima kasih.
Konfigurasi Standart Access List Standart (ACL) Pada Perangkat Cisco

Konfigurasi Standart Access List Standart (ACL) Pada Perangkat Cisco

 Hello pada kesempatan kali ini saya akan coba share tutorial bagaimana konfigurasi Access List Standart pada perangkat Cisco. Access List atau yang sering disingkat ACL merupakan fitur yang digunakan untuk mengontrol traffic jaringan dengan cara mengijinkan (permit) atau melarang (deny) berdasarkan kriteria tertentu. Pada perangkat jaringan Cisco terdapat dua jenis Access List (ACL) yaitu Standart ACL dan Extended ACL. ACL Standart memiliki kemampuan yang terbatas, saat menggunakan ACL Standart kita hanya dapat melakukan filtering berdasarkan source IP Address saja. Selain itu ciri dari ACL Standart adalah penggunaan ID ACL mulai dari 1 - 99 dan biasanya rulenya ditempakan pada interface yang dekat dengan destination. Sedangkan Extended ACL merupakan jenis ACL yang lebih detail, dengan Extended ACL kita dapat melakukan filtering dengan beberapa parameter seperti source IP Address, destination IP Address, Protocol dan Port. Extended ACL menggunakan ID mulai dari 100 - 199 dan rulenya biasanya ditempatkan pada interface yang dekat sourcenya. 

Sebelum melakukan konfigurasi ACL Standart ada baiknya untuk memahami topologi yang digunakan pada tutorial ini. Pada topologi ini terdapat dua VLAN yaitu VLAN 10 (192.168.1.1/24) untuk subnet end device dan VLAN 20 (172.16.1.1/24) untuk subnet server. Gateway untuk setiap VLAN berada di perangkat Router. Pada tutorial ini kita akan mengkonfigurasi Standart ACL dengan tujuan melakukan blokir akses dari PC2 (192.168.1.200) ke Server (172.16.1.2) tapi PC1 (192.168.1.100) masih dapat mengakses Server. Konfigurasi ACL ini disimulasikan menggunkan PNETLAB dengan Router (vios-adventerprisek9-m-15.6.2T), Switch (vios-adventerprisek9-m.ssa-high_iron_20200929), PC (docker chrome) dan Server (Docker Apache).

Baiklah setelah memahami Topologi dan Requirement yang digunakan pada tutorial ini, berikut langkah-langkah konfigurasinya :
1. Pertama kita akan melakukan konfigurasi IP Address pada Router, berikut script konfigurasinya.
enable
configure terminal
hostname Router
interface gigabitEthernet 0/0
no shutdown
exit
interface gigabitEthernet 0/0.10
encapsulation dot1Q 10
ip address 192.168.1.1 255.255.255.0
exit
interface gigabitEthernet 0/0.20
encapsulation dot1Q 20
ip address 172.16.1.1 255.255.255.0
end
write


2. Setelah melakukan konfigurasi IP Address pada Router, selanjutnya adalah konfigurasi VLAN pada perangkat Switch. Berikut konfigurasinya.

enable
configure terminal
hostname Switch
vlan 10
name END_DEVICE
exit
vlan 20
name SERVER
exit
interface gigabitEthernet 0/0
switchport trunk encapsulation dot1q
switchport mode trunk
exit
interface gigabitEthernet 0/1
switchport mode access
switchport access vlan 10
exit
interface gigabitEthernet 0/2
switchport mode access
switchport access vlan 10
exit
interface gigabitEthernet 1/0
switchport mode access
switchport access vlan 20
exit 


3. Setelah melakukan konfigurasi pada Router dan Switch maka langkah selanjutnya adalah membuat ACL Standart untuk melakukan deny traffic dari PC2 (192.168.1.200). Konfigurasi Access List dilakukan pada global configuration mode dengan command access-list [id ACL] [action] [ip address] [wildcard]  . ID ACL sendiri masukan sesuai dengan tipe ACL yang kita buat, pada tutorial ini kita menggunakan ID 1. Lalu untuk action bisa memilih deny untuk memblokir dan permit untuk mengijinkan traffic. Lalu untuk ip address bisa dimasukan IP dari source host. Sedangkan wildcard melakukan angka-angka seperti subnetmask yang digunakan untuk menentukan seberapa banyak IP host yang difilter. Command ACL Standart dari blokir traffic PC adalah access-list 1 deny 192.168.1.200 0.0.0.0 . Berhubung hanya 1 IP host yang difilter kita dapat menggunakan parameter host pada sehingga command menjadi access-list 1 deny host 192.168.1.200 .

Switch(config)#access-list 1 deny host 192.168.1.200


4. Setelah membuat rule untuk deny traffic dari PC2 (192.168.1.200) maka langkah selanjutnya adalah melakukan permit traffic dari host selain PC2. Hal ini perlu dilakukan karena pada ACL terdapat rule implicit deny (access list [id acl] deny any). Supaya traffic dari subnet dari PC1 tidak terdeny oleh rule implicit deny maka kita perlu menjalankan command access-list 1 permit any supaya IP lain di permit.

 Switch(config)#access-list 1 permit any


5. Setelah membuat rule ACL maka langkah selanjutnya adalah menempatkan rule ACL pada interface. Berdasarkan teori ACL Standart rule ditempatkan pada interface yang dekat dengan destination, maka rule dikonfigurasikan pada interface gigabitEthernet 0/0.20 (VLAN Server). Langkah ini dikonfigurasikan pada subconfiguration interface dengan command ip access-group [id ACL] [in / out] . ID ACL masukan ID dari ACL yang dibuat sebelumnya pada global configuration mode sedangkan in atau out merupakan arah traffic pada interface

Router(config)#interface gigabitEthernet 0/0.20
Router(config-if)#ip access-group 1 out


6. Verifikasi pada client dengan melakukan ping ke server 172.16.1.2 .


7.  Untuk verifikasi konfigurasi ACL pada perangkat Cisco gunakan command show access-lists [id], berikut outputnya.
Router#show access-lists 
Standard IP access list 1
    10 deny   192.168.1.200 (16 matches)
    20 permit any (41 matches)
Router#

Demikianlah konfigurasi singkat dari ACL Standart pada Cisco. Sebagai informasi untuk pembacaan rule pada ACL dimulai dari atas kebawah, maka daripada itu hati-hati dalam pembuatan rule ACL agar rule dapat berjalan sesuai dengan kebijakan yang ditentukan. Semoga artikel ini dapat menjadi referensi dalam melakukan konfigurasi ACL, Terima kasih.
Konfigurasi VLAN dan Router on a Stick pada Cisco

Konfigurasi VLAN dan Router on a Stick pada Cisco

Hello, pada kesempatan kali ini saya akan coba berbagi tutorial untuk konfigurasi VLAN dan Intervlan Routing menggunakan metode Router on Stick pada Switch dan Router Cisco. Dalam sebuah jaringan komputer, kebutuhan untuk memisahkan perangkat berdasarkan fungsi atau divisi menjadi hal yang sangat penting. Jika seluruh perangkat berada dalam satu jaringan yang sama, maka traffic broadcast akan semakin besar dan manajemen jaringan menjadi tidak efisien. 

Salah satu solusi yang umum digunakan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menerapkan VLAN (Virtual Local Area Network). VLAN memungkinkan administrator jaringan membagi satu perangkat switch fisik menjadi beberapa jaringan logis yang terpisah. Namun, ketika perangkat yang berada di VLAN berbeda perlu saling berkomunikasi, dibutuhkan mekanisme Inter-VLAN Routing.

Salah satu metode Inter-VLAN Routing yang paling sering digunakan pada jaringan berskala kecil hingga menengah adalah Router on a Stick. Metode ini memanfaatkan satu interface fisik router yang dikonfigurasi menjadi beberapa sub-interface untuk melayani komunikasi antar VLAN melalui link trunk.


Sebelum melakukan konfigurasi, ada baiknya kita memahami topologi yang digunakan pada tutorial ini. Pada topologi ini akan terdapat empat VLAN yaitu VLAN 10 (IT), 20 (HR), 30 (FIN) dan 100 (SRV). Berikut detail untuk konfigurasi IP Address dan Alokasi VLAN untuk setiap port pada Switch.
IP Address Nodes

VLAN Switch

Supaya mudah dipahami, maka tutorial ini akan saya bagi ke beberapa point :
A. Konfigurasi VLAN di Switch.
B. Konfigurasi Sub Interface Router on Stick di Router.
C. Konfigurasi DHCP Server di Router.
D. Test Konfigurasi.

A. Konfigurasi VLAN di Switch.
Pada point pertama ini kita akan melakukan konfigurasi pada switch. Adapun beberapa konfigurasi yang dilakukan pada switch yaitu hostname, membuat interface VLAN, setting mode port dan alokasi VLAN untuk port tersebut.
1. Langkah pertama adalah melakukan konfigurasi hostname untuk switch, adapun pada tutorial ini hostname switch menggunakan nama SW_Office. Dari menu user exec mode gunakan command enable untuk berpindah ke privileged exec mode, lalu gunakan command configure terminal untuk berpindah dari privileged exec mode ke global configuration mode. Untuk konfigurasi hostname sendiri gunakan command hostname [name].
Switch>enable
Switch#conf terminal 
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Switch(config)#hostname SW_OFFICE
SW_OFFICE(config)# 


2. Langkah selanjutnya setelah konfigurasi hostname maka langkah selanjutnya adalah membuat interface VLAN pada switch. Gunakan command vlan [vlan_id] untuk membuat interface VLAN baru. Setelah itu kita akan diarahakan ke subconfiguration vlan, gunakan command name [vlan_name] untuk memberikan informasi nama pada interface VLAN tersebut dan gunakan exit untuk kembali ke global configuration mode. Berikut contoh konfigurasi interface VLAN pada switch di tutorial ini.

SW_OFFICE(config)#vlan 10
SW_OFFICE(config-vlan)#name VLAN_IT
SW_OFFICE(config-vlan)#exit
SW_OFFICE(config)#vlan 20
SW_OFFICE(config-vlan)#name VLAN_HR
SW_OFFICE(config-vlan)#exit
SW_OFFICE(config)#vlan 30
SW_OFFICE(config-vlan)#name VLAN_FIN
SW_OFFICE(config-vlan)#exit
SW_OFFICE(config)#vlan 100
SW_OFFICE(config-vlan)#name VLAN_SRV
SW_OFFICE(config-vlan)#exit
SW_OFFICE(config)#


3. Setelah interface VLAN dibuat, maka langkah berikutnya adalah konfigurasi mode interface dan assign VLAN ke interface sesuai alokasi, untuk konfigurasi port switch kita akan mengacu pada informasi di tabel VLAN Switch. Untuk melakukan konfigurasi pada langkah ini silahkan gunakan command interface [interface_name] untuk masuk ke subconfiguration interface, jika interface yang dikonfigurasi lebih dari satu maka bisa menggunakan command interface range [starting_interface] - [ending_interface] atau interface range [interface_name] , [interface_name] . Setelah masuk ke subconfiguration interface maka langkah selanjutnya tentukan mode dari interface, terdapat dua mode interface yang umum digunakan, yaitu access mode dan trunk mode. Access mode digunakan untuk menghubungkan end device seperti PC, laptop, atau printer, di mana satu interface hanya membawa satu VLAN. Sementara itu, trunk mode digunakan untuk menghubungkan perangkat jaringan seperti switch ke switch atau switch ke router, yang memungkinkan satu interface membawa banyak VLAN sekaligus melalui mekanisme tagging VLAN (IEEE 802.1Q). Gunakan command switchport mode [access / trunk]. Setelah menentukan mode interface, jika port switch tersebut menggunakan mode access maka langkah selanjutnya adalah assign VLAN ID untuk interface tersebut. Untuk assign VLAN ID gunakan command switchport access vlan [VLAN_ID]. Berikut detail konfigurasinya.

SW_OFFICE(config)#interface range fastEthernet 0/1 - 2
SW_OFFICE(config-if-range)#switchport mode access
SW_OFFICE(config-if-range)#switchport access vlan 10
SW_OFFICE(config-if-range)#exit
SW_OFFICE(config)#interface range fastEthernet 0/3 - 4
SW_OFFICE(config-if-range)#switchport mode access
SW_OFFICE(config-if-range)#switchport access vlan 20
SW_OFFICE(config-if-range)#exit
SW_OFFICE(config)#interface fastEthernet 0/5
SW_OFFICE(config-if)#switchport mode access
SW_OFFICE(config-if)#switchport access vlan 30
SW_OFFICE(config-if)#exit
SW_OFFICE(config)#interface fastEthernet 0/6
SW_OFFICE(config-if)#switchport mode access
SW_OFFICE(config-if)#switchport access vlan 100
SW_OFFICE(config-if)#exit
SW_OFFICE(config)#interface fastEthernet 0/24
SW_OFFICE(config-if)#switchport mode trunk
SW_OFFICE(config-if)#exit
SW_OFFICE(config)#


4. Setelah konfigurasi create interface VLAN, set mode port dan assign VLAN. Maka langkah selanjutnya adalah menyimpan konfigurasi. Gunakan command write pada mode privileged mode atau do write jika kita ingin menyimpan konfigurasi dari mode global configuration.

SW_OFFICE(config)#do write
Building configuration...
[OK]
SW_OFFICE(config)# 


B. Konfigurasi Sub Interface Router on Stick di Router.
Pada point kedua ini kita akan melakukan konfigurasi pada perangakat Router. Adapun beberapa konfigurasi yang dilakukan pada router sendiri seperti hostname, mengaktifkan interface atau port yang mengarah ke switch, membuat sub-interface dan set ip address untuk masing-masing interface sesuai alokasi. Berikut langkah-langkahnya :

1. Pertama kita konfigurasi terlebih dahulu hostname untuk router dengan command hostaname.

Router>enable
Router#configure terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Router(config)#hostname R_OFFICE
R_OFFICE(config)#


2. Setelah mengkonfigurasi hostname maka langkah selanjutnya adalah mengaktifkan interface fisik yang mengarah ke switch, adapun interface tersebut adalah FastEthernet 0/0. Masukan command interface [interface_name] untuk masuk ke subconfiguration interface dan command no shutdown untuk mengaktifkan interface tersebut.

R_OFFICE(config)#interface fastEthernet 0/0
R_OFFICE(config-if)#no shutdown
R_OFFICE(config-if)#
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0, changed state to up
R_OFFICE(config-if)#exit
R_OFFICE(config)#


3.  Setelah interface fisik aktif maka langkah selanjutnya adalah membuat sub interface. Untuk membuat sub interface gunakan command interface [interface_name].[id_subinterface] , contohnya interface fastethernet 0/0.10 untuk membuat subinterface VLAN 10. Setelah masuk ke subconfigation subinterface maka selanjutnya set enkapsulasi 802.1Q pada interface dengan command encapsulation dot1Q [vlan_id], contohnya encapsulation dot1Q 10. Lalu assign IP Address sesuai alokasi dengan command ip address [address] [subnetmask] dan terakhir command no shutdown untuk mengaktifkan subinterface tersebut. Berikut detail konfigurasinya.

R_OFFICE(config)#interface fastEthernet 0/0.10
R_OFFICE(config-subif)#
%LINK-3-UPDOWN: Interface FastEthernet0/0.10, changed state to down
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0.100, changed state to up
R_OFFICE(config-subif)#encapsulation dot1Q 10
R_OFFICE(config-subif)#ip address 192.168.10.1 255.255.255.0
R_OFFICE(config-subif)#no shutdown
R_OFFICE(config-subif)#exit
R_OFFICE(config)#

R_OFFICE(config)#interface fastEthernet 0/0.20
R_OFFICE(config-subif)#
%LINK-3-UPDOWN: Interface FastEthernet0/0.20, changed state to down
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0.20, changed state to up
R_OFFICE(config-subif)#encapsulation dot1Q 20
R_OFFICE(config-subif)#ip address 192.168.20.1 255.255.255.0
R_OFFICE(config-subif)#no shutdown
R_OFFICE(config-subif)#exit

R_OFFICE(config)#interface fastEthernet 0/0.30
R_OFFICE(config-subif)#
%LINK-3-UPDOWN: Interface FastEthernet0/0.30, changed state to down
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0.30, changed state to up
R_OFFICE(config-subif)#encapsulation dot1Q 30
R_OFFICE(config-subif)#ip address 192.168.30.1 255.255.255.0
R_OFFICE(config-subif)#no shutdown
R_OFFICE(config-subif)#exit

R_OFFICE(config)#interface fastEthernet 0/0.100
R_OFFICE(config-subif)#
%LINK-3-UPDOWN: Interface FastEthernet0/0.100, changed state to down
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0.100, changed state to up
R_OFFICE(config-subif)#encapsulation dot1Q 100
R_OFFICE(config-subif)#ip address 192.168.100.1 255.255.255.0
R_OFFICE(config-subif)#no shutdown
R_OFFICE(config-subif)#exit
R_OFFICE(config)#


4. Subinterface telah dibuat, maka langkah selanjutnya adalah konfigurasi DHCP Server untuk VLAN 10 (IT), 20 (HR) dan 30 (Finance).


C. Konfigurasi DHCP Server.

Untuk memudah konfigurasi IP Address pada end host pada VLAN IT, HR dan Finance maka kita akan membuat DHCP Server pada Router. Berikut langkah-langkahnya :
1. Langkah pertama untuk konfigurasi DHCP Server pada perangkat Cisco khususnya router atau switch adalah membuat pool terlebih dahulu. Di dalam pool sendiri berisi informasi mulai dari gateway, network dan dns server. Gunakan command ip dhcp pool [pool_name] . Setelah itu masukan informasi gateway dengan command default-router [IP Address], network dengan command network [IP_Network] [netmask]. Berikut konfigurasinya.

R_OFFICE(dhcp-config)#default-router 192.168.10.1
R_OFFICE(dhcp-config)#network 192.168.10.0 255.255.255.0
R_OFFICE(dhcp-config)#exit

R_OFFICE(config)#ip dhcp pool VLAN20_Pool
R_OFFICE(dhcp-config)#default-router 192.168.20.1
R_OFFICE(dhcp-config)#network 192.168.20.0 255.255.255.0
R_OFFICE(dhcp-config)#exit

R_OFFICE(config)#ip dhcp pool VLAN30_Pool
R_OFFICE(dhcp-config)#default-router 192.168.30.1
R_OFFICE(dhcp-config)#network 192.168.30.0 255.255.255.0
R_OFFICE(dhcp-config)#exit
R_OFFICE(config)#


2. Setelah itu kita juga dapat mengkonfigurasi exclude address atau IP Address yang tidak boleh dialokasikan , gunakan command ip dhcp excluded-address [low_ip] [end_ip] pada global configuration mode. Berikut konfigurasinya.

R_OFFICE(config)#ip dhcp excluded-address 192.168.10.1 192.168.10.50

R_OFFICE(config)#ip dhcp excluded-address 192.168.20.1 192.168.20.50
R_OFFICE(config)#ip dhcp excluded-address 192.168.30.1 192.168.30.50


3. Konfigurasi pada router telah selesai, simpan konfigurasi command write pada mode privileged mode atau do write jika kita ingin menyimpan konfigurasi dari mode global configuration.

R_OFFICE(config)#do write

 

D. Test Konfigurasi.

Setelah konfigurasi pada Switch dan Router selesai maka langkah berikutnya adalah melakukan cek atau test konfigurasi.
1. Pertama kita lakukan konfigurasi DHCP Client pada node end devices IT, HR dan Finance. Pastikan IP yang didapat sesuai alokasi.

2. Untuk cek IP yang ter-assign di DHCP Server kita dapat gunakan command show ip dhcp binding pada privileged exec mode. Berikut outputnya.

3.  Verifikasi terakhir dapat dilakukan dengan cek ping node antar VLAN, sebagai contoh pada langkah ini kita lakukan ping dari node client ke server.


Dengan menerapkan VLAN dan Router on a Stick, administrator jaringan dapat membangun jaringan yang lebih terstruktur, aman, dan efisien. Konfigurasi ini memungkinkan pemisahan jaringan secara logis sekaligus tetap menyediakan komunikasi antar VLAN melalui satu interface router. Pemahaman konsep serta praktik konfigurasi VLAN, trunk, dan subinterface pada perangkat Cisco merupakan bekal penting bagi siapa pun yang ingin mendalami dunia networking. Semoga artikel ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat dan membantu pembaca dalam memahami serta mengimplementasikan VLAN dan Router on a Stick pada jaringan Cisco. Terima kasih.

Referensi :

Konfigurasi Remote SSH Pada Router atau Switch Cisco.

Konfigurasi Remote SSH Pada Router atau Switch Cisco.

Hello pada kesempatan kali ini saya akan mencoba berbagi tutorial untuk konfigurasi Remote SSH pada perangkat Router atau Switch Cisco. Konfigurasi remote SSH (Secure Shell) pada perangkat Cisco atau switch diperlukan agar administrator dapat mengelola perangkat jaringan secara jarak jauh dengan aman. Dibandingkan Telnet, SSH menyediakan mekanisme enkripsi sehingga proses login dan pertukaran data lebih terlindungi dari penyadapan. Oleh karena itu, penerapan SSH menjadi standar dasar dalam manajemen perangkat Cisco. 

Sebelum melakukan konfigurasi SSH (Secure Shell) pada perangkat Cisco, terdapat beberapa prasyarat yang perlu dipenuhi agar proses konfigurasi dapat berjalan dengan baik. Perangkat harus sudah memiliki alamat IP sebagai akses manajemen, hostname dan domain name.

Gambar diatas merupakan topologi yang akan kita jadikan acuan konfigurasi pada tutorial ini. Laptop memiliki IP Address 192.168.1.100 dan subnetmask 24, sedangkan IP Address pada switch akan di assign ke interface VLAN1 dengan alokasi 192.168.1.2 dan subnetmask 24. Setelah memahami prasyarat awal dan topologi untuk mengkonfigurasi SSH, berikut langkah-langkah untuk konfigurasi SSH :

Konfigurasi Awal.
1. Kondisi pertama perangkat router atau switch Cisco masih menggunakan hostname default seperti Router atau Switch. Maka pertama silahkan konfigurasi hostname perangkat dengan command hostname [hostname_device], pada tutorial ini kita set hostname untuk switch menjadi SW_0 :
Switch>enable
Switch#configure terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Switch(config)#hostname SW_0
SW_0(config)# 

2. Setelah mengkonfigurasi hostname maka langkah selanjutnya adalah set domain name untuk perangkat dengan command ip domain-name [domain_name], pada tutorial ini kita set domain name untuk switch menjadi sw_0.local.
SW_0(config)#ip domain-name sw_0.local

3. Langkah selanjutnya adalah konfigurasi IP Address untuk interface VLAN 1. Masuk ke subconfiguration interface VLAN 1. Kemudian masukan IP Address sesuai alokasi dan jangan lupa aktifkan interface dengan command no shutdown.
SW_0(config)#interface vlan 1
SW_0(config-if)#ip address 192.168.1.2 255.255.255.0
SW_0(config-if)#no shutdown
SW_0(config-if)#
%LINK-3-UPDOWN: Interface Vlan1, changed state to down

%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface Vlan1, changed state to up

SW_0(config-if)exit
SW_0(config)#

 

4.  Setelah mengkonfigurasi IP Address untuk switch maka langkah selanjutnya kita membuat user lokal yang digunakan untuk melakukan remote SSH. Pada tutorial ini kita akan mencoba membuat dua user dengan privileged yang berbeda. Privilege level 1 dan 15 dapat dikatakan sebagai level bawaan (default) pada Cisco IOS, di mana level 1 merupakan default user EXEC mode yang ditandai dengan prompt (>), sedangkan level 15 merupakan default privileged EXEC mode dengan prompt (#).

SW_0(config)#username max privilege 15 secret max123
SW_0(config)#username senna privilege 1 secret senna123


Konfigurasi SSH.
5. Untuk memulai konfigurasi pertama kita generate RSA key terlebih dahulu. Generate RSA key dilakukan untuk membuat kunci keamanan yang digunakan SSH agar koneksi remote ke perangkat Cisco menjadi aman dan terenkripsi. Gunakan command crypto key generate rsa kemudian masukan value untuk ukuran key.

SW_0(config)#crypto key generate rsa

The name for the keys will be: SW_0.sw_0.local

Choose the size of the key modulus in the range of 360 to 4096 for your

General Purpose Keys. Choosing a key modulus greater than 512 may take

a few minutes.


How many bits in the modulus [512]: 2048

% Generating 2048 bit RSA keys, keys will be non-exportable...[OK]


SW_0(config)# 


6. Setelah itu tentukan versi SSH, direkomendasikan untuk menggunakan SSH versi 2.

SW_0(config)#ip ssh version 2


7. Langkah berikutnya adalah konfigurasi VTY (Virtual Teletype) yang merupakan virtual interface yang digunakan untuk remote koneksi.

SW_0(config)#line vty 0 4
SW_0(config-line)#login local
SW_0(config-line)#transport input ssh
SW_0(config-line)#exec-timeout 5
SW_0(config-line)#exit
SW_0(config)#

Penjelaskan singkat command pada langkah ini

  • line vty 0 4 → Mengonfigurasi jalur akses remote VTY 0 sampai 4
  • login local → Menggunakan user lokal sebagai metode login
  • transport input ssh → Membatasi akses remote hanya melalui SSH
  • exec-timeout 5 → Mengatur idle menjadi 5 menit.
  • exit → Keluar dari konfigurasi VTY


8. Langkah terakhir adalah simpan konfigurasi dengan command write pada privileged exec mode.

SW_0(config)#exit
SW_0#
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console

SW_0#write
Building configuration...
[OK]
SW_0#


Testing Remote SSH.  
Langkah konfigurasi SSH pada perangkat Switch telah selesai, maka langkah selanjutnya adalah melakukan testing remote SSH dari client. Berikut hasil dari remote SSH dari client.


Dapat dilihat dari hasil testing Remote user max dengan privileged level 15 akan langsung diarahkan ke privileged exec mode sedangkan user senna dengan privileged level 1 diarahkan ke user exec mode. User senna perlu melakukan autentikasi kembali jika ingin masuk ke privileged exec mode. 

Dengan mengaktifkan SSH pada perangkat Cisco, administrator dapat melakukan pengelolaan perangkat jaringan secara remote dengan lebih aman dan efisien. Penerapan konfigurasi ini menjadi langkah dasar yang penting untuk meningkatkan keamanan akses manajemen dan mendukung operasional jaringan. Demikian tutorial ini bermanfaat sekian dan terimakasih.

Referensi :

Memahami Mode Konfigurasi Pada Cisco IOS.

Memahami Mode Konfigurasi Pada Cisco IOS.

Hello, pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan sedikit tentang mode konfigurasi yang terdapat pada perangkat Router atau Switch Cisco yang khusunya menggunakan sistem operasi IOS. Perangkat jaringan dari Cisco Systems menggunakan Command Line Interface (CLI) sebagai metode utama dalam proses konfigurasi dan manajemen sistem. CLI Cisco memiliki beberapa mode konfigurasi dengan tingkat akses yang berbeda-beda, mulai dari mode monitoring hingga mode konfigurasi lanjutan. Pemahaman terhadap setiap mode konfigurasi ini sangat penting agar administrator jaringan dapat melakukan pengaturan perangkat secara terstruktur, aman, dan efisien. Berikut mode konfigurasi yang terdapat pada perangkat Cisco :

  1. User Exec Mode.
    Mode awal saat pertama kali login ke perangkat Cisco. Akses pada mode ini sangat terbatas, hanya untuk monitoring dasar. Pada mode ini ditandai dengan simbol > setelah hostname perangkat.
    Router>  

     

  2. Privileged Exec Mode.
    Mode pada level berikutnya adalah Privileged Exec Mode. Mode ini digunakan untuk manajemen dan analisis sistem, seperti melihat konfigurasi lengkap, melakukan backup konfigurasi, menyimpan konfigurasi serta sebagai pintu masuk ke mode konfigurasi global. Adapun pada mode ni ditandai dengan simbol # setelah hostname perangkat. Gunakan command enable di User Exec Mode untuk masuk ke Privileged Exec Mode.

    Router>enable

    Router#

     

  3. Global Configuration Mode.
    Mode selanjutnya adalah Global Configuration Mode, mode ini ditandai dengan adanya (config)# pada prompt. Mode ini berfungsi untuk mengatur parameter utama perangkat, seperti hostname, routing, keamanan dasar, dan untuk masuk ke mode konfigurasi yang lebih spesifik. Untuk masuk ke mode ini gunakan command configure terminal dari mode privileged exec mode.

    Router#configure terminal

    Enter configuration commands, one per line. End with CNTL/Z.

    Router(config)#

     

Setelah Global Configuration Mode terdapat beberapa sub configuration mode yang memiliki fungsinya masing-masing. 

  1. Interface Configuration Mode.
    Subconfiguration ini digunakan untuk mengatur interface fisik maupun logical, seperti pemberian IP address, pengaturan VLAN, mode trunk/access, serta mengaktifkan atau menonaktifkan interface. Untuk masuk ke mode ini gunakan command interface [interface_name], berikut contoh penggunaannya.

    Router(config)#interface gigabitEthernet 0/0/0

    Router(config-if)#

    Pada contoh diatas kita akan melakukan konfigurasi pada interface gigabitEthernet 0/0/0, untuk interface name sendiri sesuaikan dengan nama interface yang tersedia pada perangkat. Pada mode ini ditandai dengan adanya (config-if) pada prompt.

  2. Line Configuration Mode.
    Berfungsi untuk mengatur akses login ke perangkat, baik secara lokal maupun remote, termasuk pengaturan autentikasi, timeout, dan metode akses seperti SSH.Untuk masuk ke mode ini gunakan command line vty , berikut contoh pengunaannya.

    Router(config)#line vty 0 4
    Router(config-line)#

    Command line vty 0 4 digunakan untuk masuk ke mode konfigurasi Virtual Terminal (VTY) pada perangkat Cisco Systems, yaitu jalur akses remote melalui SSH atau Telnet. Rentang 0 4 menunjukkan bahwa konfigurasi diterapkan pada lima sesi remote sekaligus (VTY 0 hingga 4). Pada moide ini ditanda dengan adanya (config-line) pada prompt.

  3.  Router Configuration Mode.
    Subconfiguration mode ini Digunakan untuk mengonfigurasi routing dinamis, seperti OSPF, EIGRP, atau RIP, agar perangkat dapat bertukar informasi routing secara otomatis. 

    Router(config)#router ospf 1
    Router(config-router)#

    Pada contoh diatas kita masuk ke dalam subconfiguration router untuk konfigurasi routing OSPF dengan ID 1. Untuk masuk ke subconfiguration ini biasanya diawali dengan command kemudian dilanjutkan dengan memilih routing dinamis apa yang akan dikonfigurasi. Pada mode ini ditandai dengan adanya (config-router) pada prompt.

  4. VLAN Configuration Mode.
    Subconfiguration ini digunakan untuk mengelola VLAN yang sudah dibuat, biasanya pada mode ini digunakan untuk memberikan nama VLAN. Untuk masuk ke dalam subconfiguration mode ini gunakan command vlan [id] dan pada mode ini ditandai dengan (config-vlan) pada prompt.

    Switch(config)#vlan 10
    Switch(config-vlan)# 

     

Setelah mengetahui Mode dan Subconfiguration Mode pada perangkat Cisco IOS tentunya kita juga harus memahami command atau shorcut keyboard yang digunakan untuk berpindah dari mode satu ke mode lainnya. Berikut saya rangkum command atau shortcut yang digunakan dalam sebuah tabel.


Memahami mode konfigurasi pada perangkat Cisco Systems merupakan hal mendasar yang harus dikuasai, supaya administrator jaringan dapat melakukan konfigurasi, monitoring, dan troubleshooting secara terstruktur, aman, serta meminimalkan kesalahan akibat perubahan konfigurasi yang tidak tepat. Dengan pemahaman yang baik terhadap fungsi dan ciri setiap mode, proses pengelolaan perangkat jaringan dapat dilakukan dengan lebih efisien dan profesional. Demikian sedikit penjelasan singkat yang dapat saya buat, semoga artikel ini bermanfaat sekian dan terima kasih.

Referensi :

 

Konfigurasi High Availability (HA) di Proxmox

Konfigurasi High Availability (HA) di Proxmox

 

Hello, pada kesempatan kali ini saya akan mencoba untuk memberikan tutorial konfigurasi high availability (HA) pada Proxmox Virtual Environment (PVE) versi 7.4-3. Dengan adanya high availability tentunya kita dapat meminimalkan dampak down time yang di akibatkan karena adanya masalah pada node server fisik. High availability memungkinkan virtual machine yang ada di dalam proxmox untuk terhubung ke node server fisik lain yang sudah tergabung dalam cluster, jika node server fisik virtual machine tersebut mati atau mengalami masalah maka virtual machine akan berpindah ke node server fisik yang lain dan otomatis menyala. Jadi dengan adanya fitur ini sangat memudahkan pekerjaan seorang system administrator.

Pada tutorial ini saya memiliki tiga node dan di salah satu node (pve1 / max) telah terdapat sebuah VM. Ketiga node tersebut telah terkonfigurasi cluster dan ceph storage. Untuk detail topologi yang digunakan pada tutorial ini dapat dilihat pada gambar dibawah. Sebelum melakukan konfigurasi ada beberapa system requirement di pve.proxmox.com/wiki/High_Availability_Cluster#System_requirements yang perlu diperhatikan.

Baiklah tanpa berlama-lama berikut langkah-langkah untuk konfigurasi HA pada Proxmox :
1. Pertama kita akan memasukan selurruh node ke dalam grup HA. Klik Datacenter, kemudian masuk ke menu HA > Groups dan klik Create. Lalu akan muncul tampilan Create: HA Group, pada tampilan ini silahkan masukan nama grup pada parameter ID. Selanjutnya pilih node yang akan dimasukan ke dalam HA grup dengan memberikannya tanda centang, jika sudah silahkan klik Create.

2. Jika sudah membuat grup HA, langkah selanjutnya menambahkan virtual machine atau container ke dalam resource HA. Klik menu HA, kemudian pada bagian resources klik Add. Lalu pilih vm atau container yang akan dimasukan ke resources pada parameter VM dan pilih grup HA yang telah dibuat pada parameter Group. Pada tahap ini terdapat satu parameter lagi yang perlu diperhatikan yaitu Request State, parameter ini digunakan untuk menentukan perlakukan kepada VM setelah berpindah ke node server fisik yang lain. Terdapat beberapa state yang dapat digunakan pada parameter ini. Jika sudah silahkan klik Add.

3. Berikut tampilan dari HA yang telah kita konfigurasi.

4. Untuk mencoba konfigurasi HA yang telah kita buat, silahkan matikan node server fisik dimana VM berada. Jika berhasil maka VM tersebut akan berpindah ke node server fisik yang lain.

Demikianlah uraian singkat langkah-langkah konfigurasi HA pada proxmox, semoga tutorial ini bermanfaat dan sekian terima kasih.

Referensi :